Jatimsatu.net, — Ancaman kekeringan panjang akibat musim kemarau telah diprediksi jauh-jauh hari oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak tinggal diam dan telah mengerahkan berbagai upaya maksimal untuk mengatasi dampak yang meluas di 24 kabupaten/kota.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menjelaskan bahwa langkah mitigasi telah dimulai sejak 3 September lalu melalui operasi modifikasi cuaca.
”Ketika BMKG menyampaikan ada awan yang bergerak, itu langsung diikuti, langsung ditebar garam, dan sudah jadi hujan ringan sampai sedang, itu dari tanggal 3 September,” ujar Khofifah saat ditemui di sela-sela kegiatannya, Jumat 18 September 2026.
Namun, tantangan di lapangan tergolong berat karena luasnya wilayah terdampak yang mencakup 24 kabupaten dan kota.
Berbagai upaya teknis seperti pengeboran sumur air dalam juga telah digencarkan. Meski demikian, hasilnya beragam; ada yang sukses, namun tidak sedikit pula yang menemui kendala di lapangan.
Khofifah membeberkan bahwa dalam beberapa proses pengeboran, tim di lapangan bahkan harus menembus kedalaman hingga 200 meter dan menghadapi struktur batu keras, hingga mata bor yang patah sampai 19 kali.
Kendala lain muncul ketika titik air berhasil ditemukan, seperti di wilayah Kunjorowesi. Dari hasil penerawangan dan pencarian titik air, debit air yang keluar ternyata belum cukup kuat untuk ditarik ke permukiman warga.
Bahkan, pada beberapa titik pengeboran lainnya, air yang keluar terdeteksi memiliki kandungan minyak yang tinggi atau kadar garam yang tidak layak konsumsi, yang sangat berbahaya bagi kesehatan ibu hamil dan balita.
Setelah berbagai ikhtiar teknologi dan teknis dilakukan, langkah terakhir yang ditempuh adalah ikhtiar batiniah melalui pendekatan spiritual.
Pemprov Jatim bersama pemda setempat di Mojokerto menggelar salat Istisqa untuk memohon kepada Sang Pencipta agar segera diturunkan hujan yang membawa berkah dan rahmat.
” Semula, kegiatan serupa juga direncanakan di Probolinggo, namun urung dilaksanakan karena para petani setempat sedang berada dalam masa panen tembakau,” jelasnya.
Penyesuaian juga dilakukan di beberapa daerah lain yang tengah memasuki musim panen tembakau agar tidak mengganggu aktivitas ekonomi warga.
”Kita harus membangun keseimbangan antara ikhtiar kita bermunajat kepada Allah agar menurunkan hujan yang membawa rahmat dan barokah, tapi juga memastikan petani tembakau tetap bisa memaksimalkan hasil panennya dengan kualitas yang baik,” pungkas Khofifah.(Yudhie)