+1.62%

S&O 500 5,382.45

-0.47%

US 10 Yr 400

+2.28%

Nasdaq 16,565.41

+2.28%

Crude Oil 16,565.41

-0.27%

FTSE 100 8,144.87

+1.06%

Gold 2,458.10

-0.53%

Euro 1.09

+0.36%

Pound/Dollar 1.27

Selasa, Oktober 27, 2026

Krisis Petani Usia Lanjut Mengancam di Jatim, Ro’aitu Nafif Laha Suarakan Revolusi Total Lewat Petani Milenial

by Tri Wahyudi
0 comments

Jatimsatu.net— Sektor pertanian di Jawa Timur dinilai berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, Jatim tetap kokoh sebagai salah satu lumbung pangan utama nasional. 

Namun di sisi lain, laju regenerasi tenaga kerja pertanian menghadapi tantangan serius akibat dominasi petani usia lanjut yang minim adopsi teknologi.

​Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Ro’aitu Nafif Laha, mendorong Pemerintah Provinsi Jatim agar bergerak lebih agresif dan terstruktur dalam melahirkan petani-petani milenial yang tangguh dan melek teknologi.

​Politisi Gerindra ini menegaskan bahwa paradigma lama mengenai dunia pertanian yang identik dengan lumpur, kerja berat, dan pendapatan minim harus segera diubah. 

Menurutnya, pertanian modern saat ini telah bertransformasi menjadi sektor bisnis bernilai tinggi yang sangat bergantung pada inovasi digital dan kewirausahaan (agripreneurship).

​”Kita harus mengubah cara pandang generasi muda terhadap sektor pertanian. Bertani hari ini bukan lagi sekadar mencangkul, melainkan mengelola bisnis berbasis teknologi yang menjanjikan masa depan cerah secara ekonomi,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).

​Lebih lanjut, kata dia Komisi B DPRD Jatim mendorong agar program cetak petani milenial tidak berhenti pada pelatihan seremonial semata.

” Pemerintah daerah perlu menyiapkan ekosistem pendukung yang komprehensif, mulai dari kemudahan akses permodalan berbunga rendah, pendampingan teknis smart farming (pertanian cerdas), hingga jaminan rantai pasok dan pemasaran hasil panen,”terangnya.

​Dengan kolaborasi yang kuat antara legislatif, eksekutif, serta pemangku kepentingan lainnya, Jatim diharapkan mampu melahirkan gelombang baru wirausahawan muda di bidang pertanian. 

Langkah ini, sambungnya diyakini tidak hanya akan mengamankan ketahanan pangan daerah, tetapi juga menekan angka pengangguran terbuka dan menggerakkan roda ekonomi pedesaan secara berkelanjutan.(Three)

You may also like