Tulungagung, Jatimsatu — Kasus keracunan massal yang terjadi di SMPN 01 Boyolangu, Tulungagung, beberapa hari lalu ternyata belum menjadi bahan evaluasi serius bagi pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tulungagung.
Berdasarkan temuan di lapangan, Yayasan Sugih Slamet, yang menjadi salah satu dapur penyedia MBG di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, pada Jumat (17/10) menyajikan menu berupa susu, roti, dan buah pir kepada peserta program.
Ironisnya, menu yang disajikan terkesan asal-asalan. Dari pantauan media, buah pir yang dibagikan tampak busuk. Beberapa siswa penerima program juga mengaku bahwa roti kemasan yang mereka terima sudah melewati tanggal kedaluwarsa (expired).
Pihak yang menyuplai makanan tersebut adalah SPPG Waung 2. Saat tim media mencoba melakukan klarifikasi di lokasi, mereka ditemui oleh seseorang bernama Doni, yang mengaku sebagai asisten lapangan.
Doni menjelaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab terhadap SPPG tidak berada di tempat. Ia menuturkan bahwa ketua SPPI hanya datang ke lokasi setiap empat hari sekali. Menurutnya, untuk melakukan klarifikasi atau konfirmasi resmi, pihak media wajib melampirkan surat resmi permintaan wawancara.
Namun, ketika tim media meminta untuk dipertemukan dengan pihak yang bertanggung jawab, Doni menyatakan bahwa “semuanya sedang tidak ada di tempat.”
Sementara itu, Deni, pengamat kebijakan dan pemantau lapangan independen, menilai bahwa program nasional MBG yang merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo ini sangat disayangkan pelaksanaannya di lapangan masih jauh dari harapan.
“Saya menyayangkan kejadian keracunan di SMPN 01 Boyolangu, juga temuan buah busuk dan susu kedaluwarsa. Ini menjadi indikasi kurangnya pengawasan dari mitra MBG dalam menjalankan program makan bergizi gratis. Padahal, ini adalah uang rakyat untuk anak-anak sekolah,” ujarnya. tim